PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) membukukan premi semester I 2007 sebesar Rp1,148 triliun (unaudited).
JAKARTA (SINDO)
Angka ini turun hingga Rp132 miliar dibandingkan penerimaan premi Jasindo dalam periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,280 triliun. ”Ini akibat hilangnya beberapa sektor penerimaan premi Jasindo,” ungkap Direktur Keuangan Jasindo Soeprijono di Jakarta,kemarin. Menurut Soeprijono, dua sektor penerimaan premi yang hilang tersebut adalah PT Lion Air dan sektor migas.
Potensi besaran premi yang hilang dari kedua sektor ini masing-masing mencapai Rp186 miliar dan Rp55 miliar. Dalam periode yang sama, Jasindo mencatatkan beban pembayaran klaim bruto sebesar Rp614,4 miliar (belum diaudit) atau naik 187,55% dibandingkan beban klaim di semester yang sama tahun lalu sebesar Rp327,6 miliar. Beban klaim terbesar digunakan untuk menutup klaim pada sektor korporasi senilai Rp614 miliar disusul sektor ritel sebesar Rp96 miliar.
Soeprijono mengatakan, potensi penerimaan premi Jasindo dari sektor korporasi sangat besar dibandingkan sektor ritel. Kendati begitu, potensi ini pun dibarengi besarnya beban klaim risiko yang harus ditanggung perusahaan jika terjadi pengajuan klaim. ”Karena itu kita ingin menyeimbangkannya dari posisi 82%:18% saat ini menjadi minimal 65%:35%.Itu sudah ideal,”sambung Soeprijono. Soeprijono menjelaskan, komposisi penerimaan premi Jasindo semester I /2007 antara lain kargo angkutan laut (marine cargo) Rp25 miliar,asuransi kebakaran Rp611 miliar, asuransi penerbangan Rp43 miliar, rangka kapal (marine hull) Rp50 miliar, engineering Rp27 miliar, kendaraan bermotor Rp106 miliar, aneka Rp95 miliar, obligasi Rp25 miliar, dan migas Rp163 miliar.
Dihubungi terpisah, pengamat asuransi umum/kerugian dan Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Asuransi (STIMA) Trisakti Munawar Kasan mengatakan, penurunan premi pada semester I /2007 tidak perlu dikhawatirkan pihak Jasindo. Sebaliknya, kata Munawar, Jasindo sebaiknya semakin intensif melakukan penyeimbangan bisnis ke depan, baik di sektor korporasi maupun ritel, seperti yang dilakukan Jasindo dalam tujuh tahun terakhir. ”Kalau di korporasi kan penerimaan premi cukup tinggi, tapi beban risikonya juga sama besar,”imbuh Munawar.
Munawar menilai, intensifikasi penyeimbangan bisnis pada kedua sektor di atas sangat mungkin dilakukan Jasindo. Pasalnya, Jasindo memiliki dukungan infrastruktur memadai, baik sumber daya manusia (SDM) maupun jumlah kantor cabang.”Jumlah kantor cabang sangat banyak ditambah SDM yang kompetitif, jadi sangat mungkin Jasindo berkreasi di ritel,”ujar Munawar. Terkait investasi, hingga saat ini Jasindo mencatatkan angka investasi sebesar Rp811 miliar. Per semester I/2007, angka investasi ini memberikan hasil sebesar Rp24,7 miliar, naik 144,17% dibandingkan hasil investasi semester yang sama tahun 2006 sebesar Rp17,1 miliar.
Mengenai laba sebelum pajak dalam periode yang sama, Jasindo membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp83,3 miliar dari total Rp130,9 miliar yang ditargetkan tahun ini. Angka ini naik 358,85% dibandingkan laba sejenis yang dicapai semester I tahun lalu sebesar Rp23,2 miliar. ”Kenaikan laba sebelum pajak terdorong kenaikan hasil underwriting dari tahun lalu Rp87 miliar, sekarang Rp127 miliar. Selain juga didorong kenaikan hasil investasi,” terang Soeprijono.
Di sisi penerimaan laba bersih setelah pajak, pada semester I/ 2007, yang berhasil diraup Jasindo mencapai Rp62,5 miliar, naik 288,54% dibandingkan semester yang sama tahun lalu sebesar Rp21,7 miliar. (zaenal muttaqin)



March 30th, 2008 at 8:53 am
Kepakaran Munawar di bidang Asuransi rupanya memang sudah cukup di akui ok war salut