M Nuh Mesam-Mesem Dituduh Habiskan Uang Rp 1 Triliun
Sabtu, 12 April 2008 | 11:40 WIB
JAKARTA, SABTU- Dituding departemen yang dipimpinnya telah menghabiskan uang mencapai Rp1 triliun untuk mendanai pengadaan software anti pornografi, Menteri Komunikasi dan Informasi Muhammad Nuh hanya mesem-mesem. “Ah, masak kita punya uang satu triliun,” kata M.Nuh menjawab pertanyaan wartawan saat memberikan keterangan. Menteri asal Surabaya itu menegaskan, justru Depkominfo tidak menggunakan sepeserpun uang negara untuk mendanai pengadaan software itu. Software yang dapat digunakan untuk menutup akses ke situs-situs porno tersebut dinamakan software Filter Situs Asusila (FSA).
“Tidak betul ada biaya sampai satu triliun. Sistem anggaran kita kan sangat ketat, apalagi belum disahkan di APBNP 2008, kalau kita mengeluarkan jelas kita melanggar. Dan hal itu tidak mungkin. Lalu tidak ada di rencana anggaran, urusan ini tidak kita anggarkan” sambung M.Nuh. Mantan rektor ITS mengatakan, proyek tersebut adalah murni kerja sosial yang bekerja sama dengan institusi-institusi lainnya. “Kawan-kawan asosiasi semuanya juga kerja sosial karena memang ini bagian dari tanggung jawab sosial,” tambah Nuh.
Selain memberikan sangkalan, dalam kesempatan itu, Depkominfo juga melakukan demo download software tersebut. Dari pantauan, software yang disediakan untuk menfilter situs-situs pornografi memang free software dan bukan hasil pengembangan Depkominfo sendiri. Setidaknya sudah ada dua jenis software yang disediakan Depkominfo. Keduanya adalah K9 Web protection dari Blue Coat dan Naomi Family Safe Internet dari Radiant. Software ini sebenarnya dapat diambil semua orang dari situs aslinya, juga dapat diambil dari server Depkominfo. Software dapat diakses secara gratis melalui situs depkominfo di www.depkominfo.go.id.
Software Filter Situs Antisusila merupakan respon pemerintah terhadap maraknya situs porno di Indonesia dan penerapan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang disahkan oleh DPR 25 Maret silam. Mengenai munculnya statemen yang menyebut bahwa penutupan situs porno tidak akan efektif, karena akan tetap bermunculan situs baru, mantan rektor ITS ini hanya berucap datar. “Kalau dianggap tidak efektif, lantas apakah kita biarkan? Kenapa sih ini kok dilarang? Jawabannya, tolong carikan alasan yang kuat apakah untuk membangun bangsa yang kuat membutuhkan pornografi? Kalau iya mari kita tumbuhkan. Kalau tidak yah mari kita kurangi,” kata M.Nuh. Kedepan Depkominfo akan segera mensosialisasikan akses untuk mendownload software berukuran 5 MB. Nantinya, masyarakat, baik itu lewat sekolah, LSM, lembaga keagamaan, akan diikutkan berpartisipasi dalam pemberantasan situs-situs pornografi dengan melaporkannya melalui email.(persdanetwor k/had)


