Alumni Teknik Kimia ITS : Direktur Wanita Pertama di Pertamina
Rukmi, Direktur Wanita Pertama di Pertamina
Jumat JP, 18 Apr 2008,
Baru kali ini Pertamina punya direktur wanita. Dia adalah Rukmi Hadihartini yang dilantik sebagai direktur pengolahan pada 6 Maret lalu. Siapa Rukmi? Bagaimana dia berbagi peran sebagai sosok tangguh di Pertamina dan sosok lembut di rumah tangga?
“Ya, inilah emansipasi,” kata Rukmi ketika ditanya perihal pencapaian karirnya. Wanita kelahiran Jember, 29 Maret 1953, itu mengakui bahwa sektor migas memang kental dengan nuansa maskulin.
Namun, lanjut dia, bukan berarti kaum Hawa tidak bisa berkecimpung dan meraih sukses di sektor tersebut. “Syaratnya, kami juga tidak boleh menonjolkan sifat-sifat wanita dalam diri kami,” katanya.
Menurut Rukmi, itulah yang disebut emansipasi yang sesungguhnya. Artinya, stereotip kaum Hawa sebagai makhluk lemah dan tidak sekuat kaum Adam harus dihilangkan. “Jadi, dalam pekerjaan, kami tidak boleh bermanja-manja. Tidak boleh cengeng, harus tegar, dan tangguh menghadapi tantangan,” jelasnya.
Lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya itu mengakui, sejak berkarir di Pertamina pada 1980, dirinya bukan pegawai kantoran yang setiap hari duduk manis di balik meja. “Sebagai engineer, saya langsung terjun ke lapangan,” kisahnya.
Usai menjadi mahasiswa ikatan dinas beasiswa Pertamina, Rukmi memang langsung berkarir di Direktorat Pengolahan Pertamina. Tugas pertama dia adalah sebagai engineer di Kilang Plaju dan Sungai Gerong, Sumatera Selatan. Saat itu, dia sudah mengoordinasi beberapa pegawai yang kesemuanya pria. “Bahkan, hampir semua rekan kerja saya juga pria,” tuturnya.
Setelah itu, di divisi mana pun ditugaskan, Rukmi hampir selalu menjadi satu-satunya wanita. Lingkungan seperti itulah yang kemudian membentuk karakternya menjadi pribadi yang kuat. “Industri migas, apalagi di lapangan, memang dunia keras,” ujar wanita yang hobi membaca biografi tokoh-tokoh dunia itu.
Karena itu, dia merasa bersyukur mendapatkan pengalaman-pengalaman berharga. Menurut dia, pengalaman tersebut sangat berguna ketika dua tahun lalu dirinya dipindah dari direktorat pengolahan yang kental dengan nuansa kerja lapangan ke direktorat umum dan sumber daya manusia (SDM) yang lebih “kantoran”.
Di tempat baru tersebut, Rukmi duduk sebagai deputi direktur umum dan SDM. “Lebih sering rapat dan yang saya pimpin mayoritas pria,” katanya.
Meski demikian, dia tidak pernah merasa kikuk. “Mungkin karena sudah bertahun-tahun saya larut dalam lingkungan yang tidak membedakan gender,” imbuhnya.
Meski demikian, tetap ada saja suara-suara sumbang mengiringi naiknya Rukmi ke kursi direktur pengolahan Pertamina. Saat dilantik Men BUMN Sofyan Djalil pada 6 Maret lalu, beberapa pejabat di sektor migas mengatakan, kelebihan yang dimiliki direktur wanita adalah lebih rajin. “Maksudnya, rajin ke salon,” ujarnya setengah bergurau kepada beberapa wartawan.
Rukmi mengakui, dirinya memang tidak bisa menghindari kodrat sebagai seorang wanita. Meski demikian, profesionalisme tetap harus menjadi acuan. Maksudnya, jika di kantor, karakter sebagai wanita karir yang ditonjolkan.
Namun, di luar kantor, karakter istri bagi suami dan ibu dari anak-anaklah yang harus ditonjolkan. “Bagaimana juga, keluarga tetap nomor satu,” katanya.
Dia mengatakan, karirnya di Pertamina memang telah menyita banyak waktunya dalam keluarga. Lebih dari separo hidup ibu dua putra itu dihabiskan di Pertamina. “Bahkan, suami saya pernah bergurau, kalau dada saya dibelah, mungkin bentuk jantung saya juga logo Pertamina,” tuturnya.
“Keluarga adalah kunci keberhasilan,” ujarnya mantap saat ditanya tentang prinsip hidupnya. Menurut dia, tanpa dukungan dan pengertian yang besar dari orang tua, suami, dan anak-anak, dirinya tak mungkin bisa seperti sekarang.
Dia menambahkan, akan susah bagi seseorang untuk mencapai puncak sukses dalam karir jika tidak mendapatkan sokongan penuh dari keluarga. Kestabilan dan keharmonisan rumah tangga, lanjut dia, akan membuat seseorang lebih mudah menjalani pekerjaan.
Rukmi mengisahkan, sejak awal karir, dirinya memang mendapatkan dukungan yang luar biasa dari suami dan anak-anak. “Suami saya memercayakan sepenuhnya kepada saya. Beliau yakin dengan komitmen saya untuk bisa berkarir tanpa menelantarkan keluarga dan, alhamdulillah, hingga sekarang saya bisa melaksanakan komitmen tersebut,” katanya.
Dia berulang-ulang menekankan, sesukses apa pun karir professional seorang wanita, kepala keluarga tetaplah sang suami. Karena itu, jika pension kelak, Rukmi sudah menyiapkan beberapa rencana. “Saya dan suami punya hobi traveling. Tapi, karena kesibukan, jadi agak jarang menjalani hobi tersebut. Saya juga akan punya banyak waktu dengan keluarga, melakukan berbagai kegiatan sosial, dan memperdalam agama. Pokoknya, harus fokus untuk keluarga,” terangnya.
Makna emansipasi memang terkadang melenceng, ketika seorang istri lebih mapan di sisi finansial daripada suami, sering istri merasa lebih berhak untuk mengatur keluarga. “Pandangan seperti ini harus diperbaiki,” ucapnya.
Sebagai direksi Pertamina, Rukmi paling tidak mengantongi gaji Rp 140 juta per bulan. Pendapatan itu bisa jadi lebih tinggi daripada pendapatan sang suami, Dono Untoro, yang berprofesi sebagai dokter di Jakarta. “Tapi, sekali lagi, kepala keluarga adalah suami,” tuturnya.
Sejak menikah hingga usia pernikahannya 29 tahun, Rukmi memiliki tradisi yang mungkin sudah sangat jarang dipraktikkan dalam sebuah keluarga. Apa tradisi itu? “Saya selalu mengantar suami sampai di depan rumah saat berangkat kerja,” ceritanya.
“Malam hari suami saya pergi kerja ke tempat praktik. Misalkan ada pekerjaan kantor yang belum selesai, saya tetap pulang dan membawa pekerjaan tersebut ke rumah,” katanya.
Setelah mengantarkan suami berangkat kerja hingga di depan rumah, barulah Rukmi melanjutkan pekerjaannya. “Kecuali untuk pekerjaan yang sangat mendesak, baru saya meminta izin suami untuk tidak bisa mengantar di depan pintu,”. (ahmad baidhowi/kum)
Sebut Anak untuk Kilang Minyak
Sebagai direktur wanita pertama di Direktorat Pengolahan Pertamina, Rukmi Hadihartini mencoba memberikan sentuhan baru pada direktorat yang sering disorot karena kinerjanya dinilai kurang memuaskan itu.
Rukmi mengakui, tantangan terbesar yang dihadapi Direktorat Pengolahan Pertamina yang bertugas mengolah minyak mentah menjadi BBM adalah kondisi kilang yang sudah tua. “Jadi, sudah tidak efisien,” ujarnya.
Jurus untuk mengerem inefisiensi pun dijalankan. Dia mengatakan, program efisiensi yang sudah disusun direktur pengolahan sebelumnya, Suroso Atmomartoyo, dilanjutkan. “Tentu, dengan dipoles lebih bagus, ditambah dengan sentuhan wanita,” katanya sembari tersenyum simpul.
Rukmi mengatakan, pengalamannya selama dua tahun di direktorat umum dan SDM memberi dirinya banyak pelajaran tentang bagaimana menggenjot motivasi kerja para karyawan. “Selama ini aspek SDM memang kurang digarap. Padahal, ini salah satu aspek terpenting untuk suksesnya sebuah perusahaan,” tuturnya.
Selama 40 hari menduduki kursi direktur pengolahan, Rukmi rajin turun ke lapangan, mengunjungi tujuh kilang Pertamina yang tersebar dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia. Di antaranya, di Pangkalan Brandan, Dumai, Plaju, Cilacap, Balikpapan, Balongan, dan Mundu. Kilang-kilang tersebut mampu menghasilkan 1.057 ribu barel BBM per hari.
“Senin nanti (21/4) saya mau mengunjungi anak saya di Sorong, Papua,” ujarnya. Ketika ditanya apakah salah satu di antara dua putranya berada di Papua? Rukmi malah tertawa. “Maksud saya… anak saya itu ya…kilang pengolahan. Kan Pertamina punya kilang di Sorong,” katanya, lantas tertawa lepas.
Saat ini Rukmi bersama direktorat pengolahan memang mengawal agenda besar. Saat ini Pertamina memang mengincar kepemilikan saham mayoritas di perusahaan petrokimia di Tuban, Jatim. Yakni, PT Trans Pacific Petrochemical Indonesia (TPPI).
Trans Pacific adalah salah satu produsen petrokimia terpadu di kawasan Asia Tenggara. Produksinya mencakup light naphtha untuk bahan baku plastik dan pipa, aromatik untuk bahan baku tekstil, plastik kemasan dan elektronik, serta produk bahan bakar minyak. Kapasitas produksinya 3,6 juta ton per tahun atau terbesar di Asia Tenggara.
Jika Pertamina bisa mengakuisisi perusahaan itu, bisa dipastikan tambahan tugas berat akan disandang Rukmi. Namun, hal itu juga berpotensi mendongkrak kinerja Direktorat Pengolahan Pertamina. “Sebagai profesional, kita harus selalu siap,” ujarnya.(owi/kum)



May 19th, 2008 at 8:02 am
ass,salam sejahtera……………..
ya saya sangat simpati pada artikel di atas. Namun yang sangat saya sesalkan kapan putra-putri indonesia menjadi pemain di tanah sendiri. Dalam hal kekuasaan atas penyedian alat-alat ataupun tekhnologi untuk mengolah minyak mentah menjadi BBM……………KAPAN YA???
Jadi keadaan dapat berbalik, INA tidak akan morat-marit ekonominya seperti sekarang.
Trims.