:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4112072/original/006568500_1659528503-IHSG_Ditutup_Menguat-Angga-2.jpg)
Bursa saham Indonesia menutup sesi perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026 dengan catatan merah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) — angka yang merangkum pergerakan harga seluruh saham di Bursa Efek Indonesia — jatuh lebih dari satu persen ke level 6.009,50.
Penurunan ini tidak terjadi sendirian. Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga tergerus 1,45% ke posisi 592,38. Tercatat sekitar 450 saham kompak bergerak turun, sementara seluruh indeks acuan yang dipantau turut berada di zona negatif.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyebut tekanan datang dari berbagai arah sekaligus. Pasar saham di kawasan Asia dan global juga sama-sama melemah hari ini, sehingga IHSG ikut terseret arus negatif tersebut.
Salah satu faktor utama yang memberatkan adalah pelemahan nilai tukar rupiah. “Dari sisi nilai tukar, rupiah terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat, dan saat ini berada di level 17.999 terhadap dolar AS,” kata Herditya.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang bertengger di atas 5,2% turut membuat investor cenderung menarik dananya dari pasar negara berkembang seperti Indonesia — fenomena yang dikenal sebagai outflow asing. Herditya juga menambahkan bahwa perombakan kabinet pemerintah hari ini turut membuat pelaku pasar lebih berhati-hati. “Hari ini juga terjadi reshuffle kabinet merah putih, nampaknya pasar masih mencermati dari adanya rotasi kabinet,” ujarnya.
Kombinasi tekanan eksternal dari pasar global dan dinamika politik dalam negeri tampaknya menjadi ujian berat bagi pasar saham Indonesia di awal Oktober ini.
Sumber: Liputan6
Baca Juga

Badung Raih Dua Penghargaan Pariwisata, Fokus pada Kualitas Bukan Sekadar Jumlah Wisatawan

CUAN dan BREN Terima Denda Rp 600 Miliar dari OJK atas Praktik Menyesatkan IPO

Kapolda Jateng Jelaskan Posisi Polisi dalam Pengurusan Izin Konser Andrea Bocelli

