:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4803092/original/030201300_1713254944-20240416-Pembukaan_Bursa_Saham-ANG_7.jpg)
Memasuki perdagangan awal pekan, Senin 5 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diperkirakan belum akan bangkit. Para analis menilai indeks masih rentan terkoreksi setelah pekan lalu membukukan pelemahan yang cukup dalam.
IHSG memang sempat naik 0,46% ke level 6.036 pada Jumat 2 Oktober 2026, namun kenaikan itu belum cukup untuk membalikkan tren negatif. Sepanjang pekan lalu, indeks sudah anjlok 3,28% dan posisinya kini berada di bawah rata-rata pergerakan 20 hari terakhir — sebuah sinyal yang biasanya menandakan tren melemah.
Analis dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyebut ada zona koreksi yang perlu diwaspadai investor. “Kami memperkirakan, posisi IHSG sedang berada pada bagian dari wave c dari wave (y), cermati area koreksi yang dapat kami perkirakan di rentang 5.850-5.911,” ujarnya. Ia juga menyebut level support atau batas bawah pergerakan di 5.949 dan 5.872, serta level resistance atau batas atas di 6.187 dan 6.298.
Sementara itu, Pilarmas Investindo Sekuritas memproyeksikan pelemahan yang lebih terbatas, dengan kisaran pergerakan antara 5.935 hingga 6.120. Kedua lembaga ini sama-sama mengisyaratkan bahwa tekanan pada IHSG hari ini masih cukup nyata.
Meski kondisi pasar sedang tidak bersahabat, para analis tetap memberikan rekomendasi saham yang bisa dicermati. Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan saham ARCI (Archi Indonesia), SMGR (Semen Gresik), dan SCMA (Surya Citra Media).
Herditya dari MNC Sekuritas memilih empat saham berbeda, yakni DOOH (Era Media Sejahtera) dengan rekomendasi beli saat harga melemah, GGRM (Gudang Garam) dengan rekomendasi trading buy selama harga bertahan di atas 16.575, serta ISAT (Indosat) dan NCKL (Trimegah Bangun Persada) yang keduanya juga direkomendasikan untuk dibeli saat harga terkoreksi.
Dengan kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian, investor disarankan untuk tetap selektif dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan — memahami profil risiko masing-masing sebelum masuk ke pasar saham tetap menjadi langkah paling bijak.
Sumber: Liputan6
Baca Juga

Badung Raih Dua Penghargaan Pariwisata, Fokus pada Kualitas Bukan Sekadar Jumlah Wisatawan

CUAN dan BREN Terima Denda Rp 600 Miliar dari OJK atas Praktik Menyesatkan IPO

Kapolda Jateng Jelaskan Posisi Polisi dalam Pengurusan Izin Konser Andrea Bocelli

