Direktur VKTR Gelontorkan Rp 10,8 Miliar untuk Beli Saham Perusahaannya Sendiri

Direktur VKTR Gelontorkan Rp 10,8 Miliar untuk Beli Saham Perusahaannya Sendiri

Salah satu petinggi PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk ternyata memilih merogoh kocek sendiri untuk membeli saham perusahaan tempatnya bekerja. Bimo Kurniatmoko, yang menjabat sebagai Direktur VKTR, membeli 15 juta lembar saham VKTR pada akhir September 2026 dengan harga Rp 720 per saham, sehingga total nilai transaksinya mencapai Rp 10,80 miliar.

Sebelum pembelian ini, Bimo sama sekali tidak memiliki saham VKTR. Setelah transaksi, ia kini mengantongi kepemilikan sebesar 0,03% dari total saham perusahaan. Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), aksi beli ini bersifat langsung dan bukan melalui perantara. “Tujuan transaksi investasi dengan status kepemilikan langsung,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI.

Langkah Bimo ini terjadi di tengah rencana besar VKTR menggelar rights issue — yaitu penawaran saham baru khusus kepada pemegang saham lama untuk menggalang dana segar. Perusahaan menawarkan maksimal 15 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 200 per saham, dan ditargetkan bisa mengumpulkan dana hingga Rp 3 triliun.

Pemegang saham utama VKTR, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), memilih tidak menyerap haknya sendiri, melainkan mengalihkan seluruh hak tersebut kepada PT Bakrie Capital Indonesia (BCI). BCI akan menyerap sekitar 3,66 miliar saham senilai Rp 732,12 miliar. Jika masih ada sisa saham yang tidak terserap, BCI bersama PT Biofuel Indo Sumatra (BIS) siap tampil sebagai pembeli siaga dengan total penyerapan maksimal senilai Rp 2,26 triliun.

Sebagian besar dana hasil rights issue, sekitar 66,86%, akan disuntikkan ke anak perusahaan PT Sarana Ekomobilitas Indonesia (SEI) sebagai modal kerja untuk pembelian kendaraan listrik sepanjang 2026-2027. Sisanya akan dipakai untuk kebutuhan operasional perusahaan, termasuk pembelian stok bus listrik, truk listrik, hingga forklift listrik. Pemegang saham yang tidak menggunakan haknya dalam rights issue ini berpotensi mengalami dilusi kepemilikan maksimal 25,53%.

Sumber: Liputan6

Baca Juga

Scroll to Top