Pasar Saham Indonesia Tertekan Sentimen Global dan Khawatir MSCI

Pasar Saham Indonesia Tertekan Sentimen Global dan Khawatir MSCI

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus level psikologis 6.000 pada Senin, 12 Oktober 2026, mencatat penurunan 2,59% menjadi 5.936,14. Sementara indeks LQ45 turun 1,79% ke 590,90. Sebagian besar saham di bursa mengalami tekanan, dengan 602 saham melemah, hanya 114 saham menguat, dan 77 saham stagnan.

Penurunan ini dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari luar negeri, serangan Houthi ke Arab Saudi menyebabkan harga minyak Brent naik 1,9% mencapai US$ 106,69 per barel. Di dalam negeri, kekhawatiran investor terhadap keputusan MSCI (Morgan Stanley Capital International) tentang status saham Indonesia menjadi pemicu jual besar-besaran.

Menurut analis Infovesta Wawan Hendrayana, MSCI dikhawatirkan akan membekukan kenaikan saham baru dan pembukaan akses pasar Indonesia untuk investor asing. “Tekanan masih wajar karena kombinasi sentimen global dan domestik, bukan krisis fundamental,” ujar Wawan.

Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji menjelaskan bahwa menembus level 6.000 membawa dampak psikologis kuat. Ketika level psikologis jebol, investor cenderung melakukan profit taking dan menunggu tanda stabilisasi sebelum membeli lagi. Isu MSCI berpotensi membuat investor asing bersikap defensif karena kekhawatiran terhadap transparansi pasar dan kecukupan likuiditas saham yang dapat diperdagangkan.

Namun para analis menekankan bahwa MSCI bukan satu-satunya faktor penekan. Pasar juga mencermati pergerakan rupiah terhadap dolar AS, data inflasi Amerika yang akan dirilis 14 Oktober 2026, dan kebijakan suku bunga Federal Reserve. Semua faktor ini bersama-sama menciptakan ketidakpastian di pasar modal.

Pengamat pasar modal Hendra Wardana menyebut evaluasi MSCI November 2026 sebagai katalis penting, tetapi tidak boleh dijadikan satu-satunya penentu arah pasar. Pasar akan menilai apakah Indonesia benar-benar melaksanakan reformasi yang diminta MSCI, bukan hanya janji semata.

Kepala Riset PT Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengingatkan agar tidak berlebihan mengaitkan seluruh koreksi dengan isu MSCI. Faktor lain seperti ketegangan Timur Tengah dan antisipasi data inflasi AS juga ikut berperan. Dia memprediksi peluang IHSG menghijau bulan ini hanya 55%, jauh lebih rendah dari rata-rata optimisme lima tahun terakhir yang mencapai 83%.

Sumber: Liputan6

Baca Juga

Scroll to Top