:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3020530/original/079906900_1578913890-20200113-Rupiah-Perkasa_-IHSG-Ditutup-Cerah--ANGGA-7.jpg)
Pasar saham Indonesia mengalami tekanan berat pada periode 12-16 Oktober 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup minggu tersebut di posisi 5.185,10, turun 14,91% dibandingkan penutupan minggu sebelumnya yang berada di 6.093,75. Penurunan tajam ini juga memicu penghentian sementara perdagangan pada Jumat, 16 Oktober 2026, ketika IHSG terkoreksi mencapai 8%.
Dampak jatuhnya IHSG terlihat luas di berbagai lini pasar. Nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) menyusut 14,43% menjadi Rp 9.157 triliun dari Rp 10.701 triliun minggu sebelumnya. Volume transaksi harian juga melemah 5,22% menjadi 44,10 miliar saham. Tekanan jual dari investor asing turut berkontribusi, dengan aksi penjualan mereka mencapai Rp 3,19 triliun, meningkat dari Rp 2,44 triliun pekan sebelumnya.
Seluruh sektor saham mengalami penurunan seiring gejolak pasar. Sektor energi memimpin penurunan dengan kerugian 19,27%, diikuti infrastruktur turun 19,09% dan industri melemah 17,96%. Bahkan sektor defensif seperti consumer nonsiklikal dan keuangan juga merosot berturut-turut 11,46% dan 10,56%. Kondisi ini menunjukkan sentimen negatif yang meluas ke seluruh segmen pasar modal.
Meski pasar dalam kondisi sulit, sejumlah saham individual berhasil meraih keuntungan signifikan. PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE) memimpin daftar saham dengan kenaikan tertinggi, menguat 96,26% ke Rp 4.200 per saham dari Rp 2.140 pekan lalu. Saham TFCO menyusul dengan kenaikan 94,17% menjadi Rp 2.000 per saham, sementara PTSP naik 63,30% ke Rp 1.780 per saham.
Deretan saham penggainer lainnya mencakup ALDO yang melonjak 62,92% ke Rp 1.955 per saham, BSDW naik 56,25% menjadi Rp 5.625 per saham, dan ARTA meningkat 33,71% ke Rp 2.340 per saham. Saham-saham berkapitalisasi lebih kecil juga turut meraih momentum, seperti AKKU yang naik 29,63%, TRUK melonjak 24,81%, dan DKHH meningkat 22,22% selama periode yang sama.
Fenomena saham top gainers di tengah pasar yang bergejolak menunjukkan adanya rotasi alokasi dana ke sejumlah emiten spesifik. Saham dengan fundamental dan prospek bisnis tertentu masih mampu menarik perhatian investor meski sentimen keseluruhan pasar sedang tertekan. Momentum ini menjadi indikasi bahwa tidak semua saham terpengaruh sama besarnya oleh koreksi pasar yang terjadi.
Sumber: Liputan6
Baca Juga

Badung Raih Dua Penghargaan Pariwisata, Fokus pada Kualitas Bukan Sekadar Jumlah Wisatawan

CUAN dan BREN Terima Denda Rp 600 Miliar dari OJK atas Praktik Menyesatkan IPO

Kapolda Jateng Jelaskan Posisi Polisi dalam Pengurusan Izin Konser Andrea Bocelli

