:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4277617/original/021298300_1672400413-Penutupan_Perdagangan_Bursa_Efek_Indonesia_2022-Angga-6.jpg)
Pasar saham Indonesia menutup perdagangan dengan tekanan pada Selasa (13/10/2026), meski beban yang dirasakan sudah berkurang dibanding hari-hari sebelumnya. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,17% ke level 5.925,97, sementara indeks acuan LQ45 turun 0,29% menjadi 589,19.
Perbaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membantu mengurangi tekanan di pasar. Mayoritas sektor saham justru berhasil menghijau pada hari itu, dengan sektor properti memimpin kenaikan di angka 1,83%, diikuti sektor kesehatan yang naik 0,53%.
Meski begitu, sektor teknologi mengalami nasib sebaliknya. Sektor ini mencatat koreksi terbesar dengan penurunan 0,95%, didorong oleh kekhawatiran investor terhadap penilaian ulang prospek kecerdasan buatan (AI) dan meningkatnya beban biaya pinjaman. Sektor consumer siklikal juga ikut tertekan dengan susut 0,61%, sementara sektor keuangan merosot 0,18%.
Analis dari Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, melihat pasar sedang mencermati beberapa faktor risiko global. “Pelaku pasar menantikan data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat (AS) periode September 2026 untuk petunjuk lebih lanjut tentang prospek kebijakan suku bunga acuan The Fed,” ujarnya.
Nico menjelaskan bahwa harga minyak mentah Brent masih melampaui US$ 105 per barel akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, sementara kekhawatiran inflasi global dan prospek suku bunga acuan terus membebani sentimen pasar. Pada saat bersamaan, Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1 persen untuk 2026.
Kepala Ekonom IMF, Silvana Tenreyro, memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah dapat menambah tekanan pada inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Nico juga menyebutkan risiko lain seperti memburuknya prospek fiskal, peristiwa cuaca ekstrem, dan persaingan AI dari China yang memicu aksi jual besar-besaran pada saham semikonduktor.
Aktivitas perdagangan Selasa mencatat 336 saham menguat yang mencegah penurunan IHSG lebih dalam, namun 290 saham melemah dan 168 saham diam di tempat. Total nilai transaksi harian mencapai Rp 10,7 triliun dengan volume perdagangan 36,5 miliar saham, menunjukkan antusiasme pasar yang masih terjaga meskipun dihadapkan pada ketidakpastian global.
Sumber: Liputan6
Baca Juga

Polri Kejar 98 Kasus Karhutla Korporasi, Tersangka Segera Ditunjuk

DKI Jakarta Terapkan Sistem Verifikasi Ketat untuk Program Bantuan Pendidikan KJP dan KJMU

Evaluasi MSCI Jadi Kesempatan Emas Perbaiki Pasar Modal Indonesia

