Dari Limbah Dapur ke Bahan Bakar Pesawat: Jelantah Jadi Solusi Energi Hijau

Dari Limbah Dapur ke Bahan Bakar Pesawat: Jelantah Jadi Solusi Energi Hijau

Minyak jelantah, yang selama ini dianggap limbah, kini mendapat perhatian serius sebagai bahan baku energi terbarukan. PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Cilacap sedang mengembangkan teknologi untuk mengubah jelantah menjadi bahan bakar pesawat ramah lingkungan yang dikenal sebagai Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Perjalanan pengembangan SAF dimulai sejak Desember 2020 dengan metode co-processing—sebuah teknik yang mengolah bahan baku terbarukan dan konvensional secara bersamaan dalam satu fasilitas. Pada tahap pertama, Pertamina menguji penyuntikan minyak sawit olahan (RBDPKO) sebanyak 2 persen, lalu meningkatkannya menjadi 2,4 persen pada Februari 2021.

Uji coba tidak hanya berhenti di pabrik. Pada Oktober 2021, SAF sudah digunakan dalam penerbangan percobaan pesawat CN235 rute Bandung-Jakarta. Kemudian pada 2023, Pertamina melakukan pengujian penerbangan komersial menggunakan pesawat Garuda Indonesia Boeing 737-800NG pada rute Jakarta-Solo pulang-pergi.

Menurut Agustiawan, Area Manager Communication, Relations, and CSR PT Pertamina Patra Niaga RU Cilacap, “pengembangan sustanaible aviation fuel (SAF) merupakan proses panjang yang memerlukan kesiapan teknologi, pasokan bahan baku, dan pasar.” Tahun 2024 menjadi milestone baru dengan produksi SAF berbasis minyak jelantah bekas pakai (used cooking oil), lengkap dengan perubahan katalis dan sertifikasi keberlanjutan internasional.

Langkah Pertamina ini mencerminkan upaya industri energi Indonesia untuk mendukung transisi energi sambil memanfaatkan sumber daya lokal secara maksimal. Dengan jelantah sebagai bahan baku, sektor penerbangan bisa mengurangi jejak karbon tanpa menggantungkan diri pada bahan bakar fosil konvensional.

Sumber: Antara News

Baca Juga

Scroll to Top