:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1600053/original/099621200_1495260000-20170520-Starbucks_2.jpg)
Lebih dari seribu gerai Starbucks di Asia kini beralih tangan. DFI Retail Group, perusahaan yang tercatat di bursa saham Singapura, mengambil alih bisnis lisensi Starbucks yang sebelumnya dikelola Maxim’s Caterers, mencakup tujuh pasar di kawasan Asia.
Dalam kesepakatan ini, Maxim’s Caterers akan membayar DFI sebesar US$ 340 juta atau sekitar Rp 6 triliun secara tunai. Selain itu, Maxim’s juga akan membeli kembali 50% saham DFI di perusahaan makanan dan minuman berbasis Hong Kong tersebut.
Jaringan gerai yang berpindah tangan mencakup lebih dari 1.100 kedai kopi di Thailand, Hong Kong, Singapura, Vietnam, Kamboja, Makau, dan Laos. DFI meyakini akuisisi ini akan langsung mendongkrak pendapatan dan efisiensi operasional perusahaan.
“Setelah transaksi rampung, bisnis berlisensi Starbucks ini akan langsung menambah pendapatan dan margin operasional bagi bisnis ritel inti Grup, dengan potensi kenaikan lebih lanjut dari sinergi operasional,” kata DFI dalam pernyataannya.
Dari sisi angka, bisnis ini diperkirakan menyumbang antara US$ 600 juta hingga US$ 650 juta atau sekitar Rp 10,7 hingga Rp 11,6 triliun terhadap pendapatan anak usaha DFI dalam periode April hingga Desember 2027. Pada tahun penuh 2028, kontribusinya diprediksi melonjak hingga US$ 900 juta atau sekitar Rp 16,1 triliun.
DFI juga melihat prospek jangka panjang yang cerah, seiring tumbuhnya kelas menengah Asia yang semakin gemar mengonsumsi kopi dan teh berkualitas. Langkah ini sejalan dengan upaya Starbucks secara global untuk menata ulang bisnisnya di bawah CEO Brian Niccol, termasuk menutup sejumlah gerai dan memangkas posisi korporat di Amerika Utara demi memperbaiki profitabilitas.
Pengambilalihan ini menjadi bagian dari tren pergeseran kepemilikan operasi Starbucks di Asia. Sebelumnya, Starbucks telah melepas 60% sahamnya di operasi China kepada Boyu Capital, sembari tetap mempertahankan sisa kepemilikan di sana. Bagi DFI, ekspansi ke bisnis kedai kopi skala besar ini tampaknya menjadi taruhan strategis untuk pertumbuhan jangka panjang di pasar Asia yang terus berkembang.
Sumber: Liputan6
Baca Juga

Polri Kejar 98 Kasus Karhutla Korporasi, Tersangka Segera Ditunjuk

DKI Jakarta Terapkan Sistem Verifikasi Ketat untuk Program Bantuan Pendidikan KJP dan KJMU

Evaluasi MSCI Jadi Kesempatan Emas Perbaiki Pasar Modal Indonesia

