Tujuh Perusahaan Antre IPO di BEI, Total Dana Terkumpul Rp 2,16 Triliun

Tujuh Perusahaan Antre IPO di BEI, Total Dana Terkumpul Rp 2,16 Triliun

Pasar modal Indonesia masih menunjukkan aktivitas pencatatan saham yang cukup ramai. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada tujuh perusahaan yang tengah dalam antrean untuk melantai di bursa melalui proses IPO atau penawaran saham perdana kepada publik. Hingga 2 Oktober 2026, total dana yang berhasil dikumpulkan dari IPO mencapai Rp 2,16 triliun.

Dari sisi sektor usaha, ketujuh perusahaan tersebut berasal dari tiga bidang berbeda: dua dari sektor energi, empat dari sektor perawatan kesehatan, dan satu dari sektor industri. Klasifikasi ukuran aset perusahaan-perusahaan ini mengacu pada aturan OJK yang tertuang dalam POJK Nomor 53/POJK.04/2017, dengan tiga di antaranya masuk kategori aset menengah.

Selain IPO, BEI juga mencatat perkembangan pada instrumen surat utang. Sebanyak 135 emisi dari 62 penerbit efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) — sederhananya, surat utang yang diterbitkan perusahaan untuk mencari pendanaan — telah diterbitkan dengan total dana terhimpun sebesar Rp 132,98 triliun. Masih ada 24 emisi dari 17 penerbit yang sedang dalam antrean, berasal dari sektor keuangan, energi, infrastruktur, hingga properti.

Di sisi lain, sebanyak 15 perusahaan yang sudah tercatat di bursa telah melakukan rights issue — yaitu penerbitan saham baru yang ditawarkan lebih dulu kepada pemegang saham lama — dengan total nilai Rp 16,23 triliun. Satu perusahaan dari sektor properti dan real estate masih menunggu giliran dalam proses yang sama.

Namun di tengah geliat pencatatan saham ini, kondisi pasar saham secara keseluruhan justru sedang tertekan. IHSG melemah 3,28% dalam sepekan menjadi 6.036,88, sekaligus meninggalkan level psikologis 6.200. Tekanan ini salah satunya dipicu oleh naiknya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat hingga 5,3% untuk tenor 10 tahun, tertinggi sejak 2002.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan dampak langsung dari situasi tersebut terhadap Indonesia. “Dengan ada kenaikan ini, menekan negara-negara emerging market di mana nilai tukarnya cenderung tertekan terutama rupiah,” kata Herditya. Investor asing pun tercatat melakukan aksi jual saham sebesar Rp 5,03 triliun sepanjang pekan itu, lebih besar dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp 3,15 triliun.

Meskipun tekanan jual dari asing cukup deras, rata-rata volume transaksi harian justru melonjak signifikan hingga 72,51% menjadi 50,37 miliar saham. Kondisi ini mencerminkan pasar yang lebih bergejolak, seiring diterapkannya kebijakan batas bawah harga saham Rp 1 yang turut mendorong likuiditas sekaligus meningkatkan volatilitas perdagangan. Pemulihan IHSG masih akan bergantung pada perkembangan sentimen global dan langkah investor asing ke depannya.

Sumber: Liputan6

Baca Juga

Scroll to Top