IHSG Masih Tertekan, Tapi Ada Harapan Rebound di Kuartal IV 2026

IHSG Masih Tertekan, Tapi Ada Harapan Rebound di Kuartal IV 2026

Meski sudah anjlok lebih dari 28% sepanjang tahun ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) — indikator kesehatan pasar saham Indonesia — belum kehabisan harapan untuk bangkit sebelum 2026 berakhir. Sejumlah analis menilai ada faktor positif yang bisa mendorong pemulihan di sisa tahun ini.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup di level 6.192 pada 6 Oktober 2026, turun 28,38% dibanding awal tahun. Salah satu sinyal menarik adalah valuasi saham yang sudah sangat murah — rasio harga terhadap laba (P/E) Indonesia per 25 September 2026 berada di angka 9,07 kali, menjadikan pasar saham kita salah satu yang termurah di dunia.

Fenomena window dressing — yakni aksi manajer investasi yang “mempercantik” portofolio mereka menjelang akhir tahun — juga disebut sebagai katalis positif. “Memasuki kuartal IV 2026, pergerakan IHSG akan dipengaruhi oleh tingkat valuasi harga saham yang sudah sangat murah serta ekspektasi aksi window dressing akhir tahun sebagai sentimen positif utama,” kata M. Nafan Aji Gusta Utama, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

Di sisi lain, tekanan terhadap pasar saham masih cukup berat. Rupiah sempat menembus level Rp 18.000 per dolar AS, sementara investor asing tercatat sudah menarik dananya sebesar Rp 82,55 triliun sepanjang 2026. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mencapai 5,28% — tertinggi sejak 2007 — turut membuat investor global enggan melirik aset-aset di negara berkembang seperti Indonesia.

“Di sisi lain, bayangan sentimen negatif masih berasal dari risiko volatilitas rupiah, tingginya tekanan inflasi global, serta ketidakpastian ketegangan geopolitik yang berpotensi menahan laju pemulihan ekonomi,” ujar Nafan.

Untuk proyeksi ke depan, Nafan memperkirakan IHSG masih akan bergerak sideways atau stagnan dengan volatilitas tinggi pada Oktober 2026. Namun jika indeks berhasil menembus kisaran 6.347–6.451, peluang rebound lebih terbuka. Kiwoom Sekuritas Indonesia bahkan memproyeksikan IHSG berpotensi menyentuh level 7.000 di akhir tahun.

Bagi investor yang ingin tetap aktif di tengah kondisi ini, Nafan menyarankan strategi pembelian bertahap — beli sedikit demi sedikit saat harga turun — dan menghindari pembelian sekaligus dalam jumlah besar. Ia juga merekomendasikan menyimpan 20–30% portofolio dalam bentuk kas atau aset rendah risiko agar tetap fleksibel menangkap peluang. Sektor perbankan besar dan barang kebutuhan pokok dinilai masih layak dicermati karena fundamentalnya yang lebih kokoh di tengah gejolak pasar.

Sumber: Liputan6

Baca Juga

Scroll to Top