:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5755718/original/069568600_1778657615-5.jpg)
Bursa saham Indonesia mencatat penguatan tipis selama sepekan perdagangan 5–9 Oktober 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) — ukuran kinerja keseluruhan saham di Bursa Efek Indonesia — ditutup di level 6.093,75, naik 0,94% dibanding posisi akhir pekan sebelumnya di 6.036,88. Nilai total saham yang tercatat di bursa pun ikut membengkak 0,69% menjadi Rp10.701 triliun.
Meski berhasil naik, analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai penguatan ini belum cukup kuat. IHSG masih belum mampu menembus rata-rata pergerakan 20 hari terakhir — sebuah tolok ukur teknikal yang dipakai analis untuk menilai tren pasar. Artinya, kenaikan ini masih tergolong rapuh.
Dari luar negeri, data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang jauh meleset dari perkiraan turut mewarnai pergerakan IHSG. Lapangan kerja baru di AS hanya bertambah 29.000, jauh di bawah ekspektasi, sementara tingkat pengangguran naik ke 4,2%. “Hal ini dicermati pasar karena adanya ekspektasi akan sikap dovish dari the Fed ke depan,” ujar Herditya, merujuk pada kemungkinan bank sentral AS akan lebih longgar dalam kebijakan suku bunganya.
Namun di sisi lain, risalah rapat komite kebijakan moneter AS (FOMC Minutes) justru mengisyaratkan masih ada satu kali kenaikan suku bunga lagi pada akhir 2026. Hal itu mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun naik ke level 5,2% — yang artinya investasi di AS makin menarik dan berpotensi menarik dana keluar dari pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Tekanan juga datang dari harga minyak dunia yang masih bertahan tinggi di kisaran US$90–103 per barel akibat memanasnya konflik di Timur Tengah. “Hal ini mengakibatkan meningkatkan kekhawatiran pasar akan inflasi energi,” kata Herditya. Inflasi energi yang tinggi bisa menekan daya beli dan memperlambat pemulihan ekonomi.
Penguatan dolar AS akibat naiknya imbal hasil obligasi tadi juga menekan nilai tukar rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya — kondisi yang pada akhirnya ikut membebani IHSG. Selama sepekan, investor asing tercatat melepas saham senilai Rp2,44 triliun, meski angka ini membaik dibanding pekan sebelumnya yang mencapai Rp5,03 triliun.
Dari sisi aktivitas perdagangan, rata-rata volume transaksi harian turun 7,62% menjadi 46,53 miliar saham, dan rata-rata frekuensi transaksi harian sedikit menyusut menjadi 1,67 juta kali. Secara keseluruhan, IHSG memang berhasil bangkit dari keterpurukan pekan lalu, tetapi sejumlah tekanan global masih membayangi dan membuat langkah pemulihan bursa dalam negeri terasa berat.
Sumber: Liputan6
Baca Juga

Badung Raih Dua Penghargaan Pariwisata, Fokus pada Kualitas Bukan Sekadar Jumlah Wisatawan

CUAN dan BREN Terima Denda Rp 600 Miliar dari OJK atas Praktik Menyesatkan IPO

Kapolda Jateng Jelaskan Posisi Polisi dalam Pengurusan Izin Konser Andrea Bocelli

