Kementerian Industri Targetkan Produktivitas Tenaga Kerja Naik 19% dalam Lima Tahun

Kementerian Industri Targetkan Produktivitas Tenaga Kerja Naik 19% dalam Lima Tahun

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menekankan pentingnya investasi pada sumber daya manusia (SDM) sebagai kunci untuk memperkuat industri manufaktur nasional. Bukan hanya mesin dan uang yang dibutuhkan, tetapi juga pekerja yang terampil dan dapat beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan industri.

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyatakan bahwa pengembangan SDM harus menjadi bagian utama dari strategi pembangunan industri. Ia menjelaskan, “Pembangunan industri nasional tidak hanya membutuhkan investasi dan teknologi, tetapi juga SDM yang kompeten, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan industri. Karena itu, pembangunan SDM industri harus menjadi bagian yang terintegrasi dalam penguatan struktur industri nasional.”

Target yang ditetapkan cukup ambisius: produktivitas pekerja di sektor manufaktur diharapkan meningkat dari Rp124,35 juta per orang di tahun 2025 menjadi Rp147,7 juta per orang pada 2029. Peningkatan ini didorong melalui pendidikan dan pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri nyata.

Strategi yang diterapkan adalah menyamakan kurikulum pendidikan vokasi (SMK dan perguruan tinggi kejuruan) dengan kebutuhan dunia kerja, menggunakan pendekatan yang disebut “link and match” dan dual system. Sistem ini memastikan peserta didik tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung praktek di industri.

Kompetensi digital dan teknologi Industri 4.0 menjadi fokus utama, termasuk otomasi, analisis data, dan keamanan siber. Menteri Sarmuji menekankan bahwa “Dengan SDM industri yang semakin kompeten, produktivitas tenaga kerja dapat terus ditingkatkan dan pada akhirnya memperkuat daya saing industri manufaktur nasional.”

Implementasi program ini dilakukan melalui 13 perguruan tinggi vokasi, 9 SMK, dan 7 pusat pelatihan industri yang dikelola Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI). Program mencakup pendidikan dual system, sertifikasi keahlian, dan dukungan untuk memulai usaha sendiri.

Antusiasme masyarakat terhadap pendidikan vokasi industri terlihat dari tingginya jumlah pendaftar hingga akhir Juni 2026. Perguruan tinggi vokasi menerima 61.744 pendaftar dengan hanya 4.566 kuota, sementara SMK kejuruan mendapat 33.592 pendaftar untuk 2.749 tempat tersedia.

Kepala BPSDMI Adie Rochmanto Pandiangan mengungkapkan bahwa kurikulum terus disesuaikan dengan kebutuhan industri, infrastruktur ditingkatkan, dan keterkaitan dengan dunia usaha diperkuat. Lulusan dibekali tidak hanya pengetahuan akademis, tetapi juga sertifikasi praktis yang langsung diakui industri.

Target ambisius ditetapkan hingga 2029: 89 persen SDM industri diharapkan memiliki kompetensi yang memadai, dan 88 persen lulusan pendidikan vokasi harus bekerja dengan kompetensi sesuai keahlian mereka. Upaya ini dianggap sebagai langkah strategis untuk menjaga daya saing industri Indonesia di pasar global yang semakin kompetitif.

Sumber: Antara News

Baca Juga

Scroll to Top