Pariwisata Indonesia Diproyeksikan Lampaui Level Pra-Pandemi pada 2026

Pariwisata Indonesia Diproyeksikan Lampaui Level Pra-Pandemi pada 2026

Industri pariwisata Indonesia menunjukkan momentum pemulihan yang kuat. Jika pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara berlanjut seperti saat ini, Indonesia kemungkinan besar bisa mencapai jumlah pengunjung setara dengan tingkat sebelum COVID-19 melanda pada tahun 2026.

Data dari Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) menunjukkan dalam periode Januari hingga Agustus 2026, kunjungan wisman sudah mencapai 10,58 juta orang. Angka ini naik 5,38 persen dibanding periode sama di tahun 2025, menandakan sektor ini terus menunjukkan pertumbuhan positif.

Ketua GIPI, Hariyadi Sukamdani, menyatakan dalam konferensi pers Rapimnas GIPI di Jakarta, “Kalau tren ini terus terjaga dengan pertumbuhan setiap bulan 5,38 persen, maka pada 2026 bisa tercapai 16,2 juta kunjungan wisman.” Target ini hampir menyamai pencapaian 2019, sebelum pandemi melanda, yang mencatatkan 16,11 juta pengunjung.

Beberapa faktor membantu daya saing pariwisata Indonesia. Nilai tukar rupiah yang terdepresiasi membuat produk dan layanan wisata lokal lebih terjangkau bagi turis asing. Ditambah dengan diversitas destinasi, berkembangnya industri kreatif, dan tersedianya rute penerbangan langsung dari berbagai negara mempermudah akses wisatawan menuju Indonesia.

Meski optimis, GIPI melihat masih ada ruang untuk peningkatan lebih lanjut. Hariyadi menilai dukungan promosi dari pemerintah masih perlu ditingkatkan. Menurutnya, “dana promosi itu memang harus disiapkan, tidak mungkin itu hanya dilakukan oleh pelaku pariwisata swasta. Karena namanya promosi pariwisata itu selalu harus dilakukan oleh negara.” Kolaborasi yang lebih kuat antara sektor swasta dan pemerintah dinilai kunci untuk memaksimalkan pertumbuhan sektor ini ke depan.

Proyeksi 16,2 juta pengunjung pada 2026 masih bersyarat pada konsistensi pertumbuhan hingga akhir tahun, namun tren yang ada menunjukkan Indonesia sedang memasuki fase pemulihan pariwisata yang signifikan dan berkelanjutan.

Sumber: Detik Travel

Baca Juga

Scroll to Top