:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375685/original/060206000_1792209020-investor_saham_rico_bayu-17_oktober_2026b.jpg)
Pasar saham Indonesia mengalami tekanan besar setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan rencana konsultasi untuk mengubah status pasar Indonesia dari emerging market (pasar berkembang) menjadi standalone market (pasar mandiri). Pengumuman ini memicu penjualan masif, membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 11,57% menjadi 5.185,10 pada Jumat, 16 Oktober 2026—pencapaian terburuk sejak 1998.
Penurunan drastis itu membawa kinerja IHSG tahun ini (Januari hingga 16 Oktober 2026) terpuruk 40,04%. Sebelumnya, MSCI menerima kekhawatiran dari para pelaku pasar mengenai transparansi struktur kepemilikan saham dan adanya dugaan praktik perdagangan terkoordinasi di Indonesia. MSCI akan menerima masukan hingga 30 April 2027 dan mengumumkan keputusan final paling lambat 30 Juni 2027.
Meskipun gejolak pasar berlangsung, tidak semua investor panik. Rico Bayu Wiranata, seorang investor yang memulai perjalanannya sejak 2015, menegaskan komitmennya tetap berinvestasi di pasar saham Indonesia. Lulusan ITS berusia 36 tahun ini memilih tidak bereaksi impulsif terhadap sentimen MSCI.
Strategi Rico berfokus pada analisis fundamental perusahaan bukan sekadar reaksi pasar. “Mayoritas saham big caps yang masuk dalam daftar pantauan saya masih memiliki fundamental yang baik, sehingga saya tetap percaya pada hasil analisis dan penilaian saya terhadap emiten-emiten itu,” katanya. Portofolio investasinya terdiri dari 80% saham jangka panjang untuk dana pensiun dan 20% untuk trading jangka pendek, mencakup sektor keuangan, perbankan, dan batu bara.
Setelah keluar dari perusahaan tambang pada Desember 2025, Rico menjalankan tiga bisnis berbadan hukum PT di bidang transportasi/logistik, ritel, dan pendidikan. Sebagian keuntungan bisnis dialokasikan kembali ke saham, dengan tujuan menciptakan aliran pasif untuk kehidupan masa tua tanpa mengganggu kehidupan keluarganya.
Rico percaya reklasifikasi MSCI masih dapat dihindari jika regulator bergerak cepat. Ia menilai Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki kesempatan emas untuk memperbaiki tata kelola dan transparansi pasar. “Pengumuman MSCI tersebut masih berupa potensi, sehingga saya melihat masih ada ruang bagi otoritas terkait, seperti BEI dan OJK, untuk memberikan klarifikasi, melakukan evaluasi, serta mengambil langkah-langkah perbaikan yang diperlukan,” jelasnya.
Menghadapi volatilitas pasar, Rico menyarankan investor untuk mengendalikan emosi dan menghindari keputusan berbasis kepanikan. Menurutnya, strategi wait and see lebih bijak daripada tergesa-gesa membeli saat pasar sedang jatuh, sebab harga rendah tidak selalu mencerminkan nilai saham sebenarnya. Ia lebih memilih menunggu hingga kondisi pasar menunjukkan tren kenaikan yang lebih jelas sebelum menambah posisi.
Filosofi investasi Rico menekankan disiplin dan perhitungan matang daripada keserakahan atau ketakutan. “Kita tidak harus selalu masuk ke pasar di setiap momentum. Yang terpenting adalah mengambil keputusan dengan perhitungan yang matang, bukan karena keserakahan maupun ketakutan,” tuturnya. Pendekatan ini mencerminkan keyakinan bahwa kualitas dan kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia dapat diperbaiki dalam jangka panjang, menjadi peluang bagi investor yang tetap tenang dan strategis.
Sumber: Liputan6
Baca Juga

Polri Kejar 98 Kasus Karhutla Korporasi, Tersangka Segera Ditunjuk

DKI Jakarta Terapkan Sistem Verifikasi Ketat untuk Program Bantuan Pendidikan KJP dan KJMU

Evaluasi MSCI Jadi Kesempatan Emas Perbaiki Pasar Modal Indonesia

