:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4277617/original/021298300_1672400413-Penutupan_Perdagangan_Bursa_Efek_Indonesia_2022-Angga-6.jpg)
Pasar modal Indonesia dibuka dengan sentimen negatif pada Senin, 12 Oktober 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) — barometer utama kesehatan bursa saham — mencatat penurunan signifikan sebesar 1,94%, menutup hari pada level 5.975,78. Kerugian ini dialami hampir di semua sudut pasar, mencerminkan tekanan ekonomi yang lebih luas.
Laporan perdagangan menunjukkan dominasi penjualan saham dibanding pembelian. Sebanyak 537 saham mengalami penurunan harga, sementara hanya 159 saham yang mampu naik dan 96 saham stagnan. Indeks LQ45, yang mengukur kinerja 45 perusahaan terbesar, juga merosot 1,62% menjadi 591,93.
Tidak ada sektor yang terselamatkan dari tekanan pasar hari itu. Sektor energi menjadi paling parah dengan penurunan 3,57%, diikuti infrastruktur yang turun 3,33%. Sektor dasar industri melemah 2,77%, sementara industri manufaktur dan transportasi masing-masing turun 2,39% dan 1,81%.
Di level valas, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat, mencapai 17.887 per dolar. Kondisi ini turut menambah beban pasar saham lokal. Volume perdagangan mencapai 39,2 miliar saham dengan nilai transaksi harian sebesar Rp 6,5 triliun.
Beberapa saham individual mengalami penurunan yang cukup dalam. Saham DEWA terperosok paling dalam dengan penurunan 6,01% menjadi Rp 344 per saham, meskipun sempat dibuka lebih tinggi di Rp 368. Saham BEKS juga terpangkas 3,03%, sementara TINS turun 2,92% menjadi Rp 4.320 per saham. Hanya ADMR yang relatif tahan, melemah tipis 1,32% ke Rp 1.500.
Tekanan di pasar saham Indonesia mencerminkan dinamika pasar global yang lebih luas, dengan investor tampak menjadi pesimis terhadap prospek ekonomi dalam waktu dekat.
Sumber: Liputan6
Baca Juga

Polri Kejar 98 Kasus Karhutla Korporasi, Tersangka Segera Ditunjuk

DKI Jakarta Terapkan Sistem Verifikasi Ketat untuk Program Bantuan Pendidikan KJP dan KJMU

Evaluasi MSCI Jadi Kesempatan Emas Perbaiki Pasar Modal Indonesia

