:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5755472/original/086144900_1778657370-2.jpg)
Bursa saham Indonesia mengakhiri pekan 28 September hingga 2 Oktober 2026 dengan catatan merah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) — ukuran kinerja keseluruhan saham di Bursa Efek Indonesia — terperosok 3,28% ke level 6.036,88, turun jauh dari posisi 6.241,89 pada pekan sebelumnya.
Penurunan ini turut menyeret nilai kapitalisasi pasar BEI, yakni total nilai seluruh saham yang tercatat di bursa, turun 2,55% menjadi Rp 10.627 triliun dari Rp 10.905 triliun sepekan sebelumnya. Tekanan jual yang terus meningkat menjadi warna dominan perdagangan sepanjang pekan ini.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyebut salah satu pemicu utama adalah lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang sempat menyentuh 5,3% untuk tenor 10 tahun — level tertinggi sejak 2002. Imbal hasil obligasi adalah keuntungan yang didapat investor dari surat utang; semakin tinggi nilainya, semakin menarik obligasi AS dibanding aset di negara lain.
“Kedua, dengan ada kenaikan ini, menekan negara-negara emerging market di mana nilai tukarnya cenderung tertekan terutama rupiah,” kata Herditya. Kondisi ini membuat investor asing semakin tidak nyaman menaruh dana di pasar saham Indonesia.
Herditya juga menambahkan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi AS diperkirakan memicu aliran dana keluar dari Indonesia, seiring investor asing yang mulai mengurangi eksposur mereka terhadap aset domestik. Selain itu, kebijakan batas bawah harga saham Rp 1 turut menambah volatilitas atau gejolak di pasar.
Dampaknya nyata: investor asing mencatatkan aksi jual saham senilai Rp 5,03 triliun selama sepekan, lebih besar dibanding pekan sebelumnya yang mencapai Rp 3,15 triliun. Di sisi lain, rata-rata volume transaksi harian justru melonjak 72,51% menjadi 50,37 miliar saham, meski rata-rata frekuensi transaksi harian malah turun 7,54% menjadi 1,68 juta kali.
Tekanan pada IHSG pekan ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari tren negatif dua pekan terakhir, yang juga dipengaruhi kenaikan suku bunga bank sentral AS dan pelemahan rupiah ke kisaran Rp 17.942 per dolar AS. Pasar kini menantikan sinyal lebih jelas dari kebijakan global sebelum kembali bergerak percaya diri.
Sumber: Liputan6
Baca Juga

Badung Raih Dua Penghargaan Pariwisata, Fokus pada Kualitas Bukan Sekadar Jumlah Wisatawan

CUAN dan BREN Terima Denda Rp 600 Miliar dari OJK atas Praktik Menyesatkan IPO

Kapolda Jateng Jelaskan Posisi Polisi dalam Pengurusan Izin Konser Andrea Bocelli

