:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4932954/original/045752300_1725078534-ITM_Pic_-_Coal_Barging.jpg)
Perusahaan tambang batu bara terkemuka PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) baru saja membentuk perusahaan anak bernama PT ITM Mineral Investama (IMI) pada 7 Oktober 2026. Langkah ini bagian dari strategi ekspansi portofolio bisnis mineral secara terintegrasi ke depannya.
IMI didirikan bersama dengan PT ITM Batubara Utama (IBU), anak usaha ITMG yang sudah ada. ITMG mengungkapkan bahwa “Transaksi pendirian anak perusahaan ini merupakan transaksi afiliasi yang dilakukan dengan IBU sebagai perusahaan terkendali yang sahamnya dimiliki Perseroan sekurang-kurangnya sebesar 99% dari modal disetor.” Pendirian perusahaan baru ini tidak memerlukan persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham karena nilai transaksi berada di bawah batasan yang ditetapkan.
Di lapangan, ITMG menunjukkan performa operasional yang positif di semester pertama 2026. Produksi batu bara kuartal II mencapai 5,3 juta ton, meningkat 13% dari kuartal sebelumnya, meski total produksi semester I sedikit melambat menjadi 9,9 juta ton dibanding 10,4 juta ton pada periode sama tahun lalu.
Penjualan perusahaan justru tumbuh lebih baik. Volume penjualan meningkat 5% menjadi 12,3 juta ton pada semester I 2026 dari 11,7 juta ton periode sama 2025. Harga jual rata-rata juga naik dari USD 78 menjadi USD 81 per ton, didorong oleh penguatan harga acuan batu bara global.
Pertumbuhan penjualan dan kenaikan harga bermuara pada pendapatan meningkat 9% year-on-year menjadi USD 1 miliar pada semester pertama, dengan laba bersih USD 110 juta. Namun, biaya operasional juga terdorong naik 7% terutama akibat naiknya biaya penambangan dan transportasi karena strip ratio lebih tinggi serta kenaikan harga bahan bakar global.
Dari sisi keuangan, ITMG mencatat total aset USD 2,417 miliar dengan posisi kas yang sehat sebesar USD 804 juta (termasuk deposito). Royalti kepada pemerintah meningkat 7% menjadi USD 111 juta, sejalan dengan pertumbuhan volume batu bara yang terjual. Ekuitas perusahaan tumbuh menjadi USD 1,910 miliar berkat naiknya saldo laba ditahan.
Sumber: Liputan6
Baca Juga

Badung Raih Dua Penghargaan Pariwisata, Fokus pada Kualitas Bukan Sekadar Jumlah Wisatawan

CUAN dan BREN Terima Denda Rp 600 Miliar dari OJK atas Praktik Menyesatkan IPO

Kapolda Jateng Jelaskan Posisi Polisi dalam Pengurusan Izin Konser Andrea Bocelli

