:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363393/original/037951400_1790856196-IMG_7455.jpg)
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA punya strategi besar untuk keluar dari jeratan utang: menjual sejumlah aset senilai Rp 5,5 triliun secara bertahap hingga tahun 2028. Langkah ini merupakan bagian dari proses restrukturisasi keuangan perusahaan konstruksi pelat merah tersebut.
Aset yang akan dilepas bukan sembarang aset. WIKA berencana menanggalkan kepemilikan—baik mayoritas maupun minoritas—di beberapa ruas jalan tol, bisnis pengelolaan air, dan sektor energi. Penjualan aset atau divestasi ini dijadwalkan berlangsung dalam tiga tahap, yakni pada 2026, 2027, dan 2028.
Direktur Utama WIKA, I Ketut Pasek Senjaya Putra, menegaskan bahwa seluruh hasil penjualan aset akan difokuskan untuk satu tujuan. “Keuntungan daripada divestasi ini tentunya akan kami lakukan untuk membayar pelunasan utang,” ujarnya dalam sesi paparan publik daring pada Kamis, 1 Oktober 2026.
Direktur Keuangan WIKA, Mulyadi, menambahkan bahwa rencana divestasi ini sudah dikomunikasikan kepada pihak perbankan dan pemegang obligasi—yaitu investor yang memegang surat utang perusahaan. “Secara keseluruhan, jumlah divestasi WIKA adalah Rp5,5 sekian triliun yang terjadi di 2026, 2027 dan tahun 2028. Dan ini adalah bagian dari restrukturisasi keuangan WIKA yang kami usulkan ke pihak perbankan dan pemegang obligasi,” kata Mulyadi.
Sinyal positif dari proses restrukturisasi ini mulai terlihat dari tren penurunan total utang WIKA. Jika divestasi berjalan sesuai rencana, perusahaan berharap beban keuangannya bisa jauh lebih ringan menjelang penghujung dekade ini.
Sumber: Liputan6
Baca Juga

Badung Raih Dua Penghargaan Pariwisata, Fokus pada Kualitas Bukan Sekadar Jumlah Wisatawan

CUAN dan BREN Terima Denda Rp 600 Miliar dari OJK atas Praktik Menyesatkan IPO

Kapolda Jateng Jelaskan Posisi Polisi dalam Pengurusan Izin Konser Andrea Bocelli

