Alta Internasional Kurangi Kepemilikan Saham HELI, Jual 9,2 Juta Lembar

Alta Internasional Kurangi Kepemilikan Saham HELI, Jual 9,2 Juta Lembar

PT Alta Internasional Indonesia melepas 9,2 juta saham miliknya di PT Jaya Trishindo Tbk (HELI), perusahaan penerbangan niaga tidak berjadwal. Penjualan ini dilakukan pada 8 Oktober 2026 dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp 3,14 miliar, sebagai bagian dari strategi divestasi (pengurangan kepemilikan) pemegang saham.

Setelah transaksi jual, porsi saham Alta Internasional di HELI turun dari 16% menjadi 14,90%. Ini berarti jumlah lembar saham yang dimilai berkurang dari 133,258 juta menjadi 124,058 juta saham. “Tujuan transaksi divestasi dengan status kepemilikan langsung,” demikian keterangan dari pengumuman Bursa Efek Indonesia (BEI).

Saat penjualan dilakukan, saham HELI mengalami tekanan harga. Pada penutupan perdagangan Jumat 9 Oktober 2026, harga turun 8,77% ke level Rp 312 per lembar. Hari itu saham HELI dibuka di Rp 348, sentuh tertinggi Rp 352, dan terendah Rp 300 dengan total transaksi Rp 3 miliar.

Di pasar yang lebih luas, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mengalami penguatan 1,04% menjadi 6.093,75, sementara LQ45 naik 1,35% ke 601,66. Penguatan ini terjadi setelah IHSG terkoreksi signifikan sehari sebelumnya, membuka peluang investor untuk membeli saham-saham dengan harga menarik.

Nafan Aji, analis teknikal senior dari PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, melihat penguatan IHSG mencerminkan aksi pembelian investor setelah tekanan jual sebelumnya. Dia mengatakan, “Penguatan IHSG ditopang oleh sektor industri, barang baku, dan infrastruktur, dengan saham BBCA, AMMN, TLKM, BBRI, dan MORA menjadi beberapa penopang indeks.”

Meski optimis, Nafan tetap memberi peringatan bahwa pemulihan pasar masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut. Dia menekankan, “Kenaikan IHSG hari ini belum serta-merta mengonfirmasi pembalikan tren menuju bullish. Penguatan tersebut masih perlu dikonfirmasi oleh keberlanjutan arus beli, peningkatan volume transaksi, serta kemampuan indeks bertahan di atas level support terdekat.”

Investor diminta tetap waspada terhadap berbagai risiko eksternal, mulai dari kebijakan suku bunga The Federal Reserve yang masih ketat, fluktuasi mata uang rupiah, hingga ketidakpastian geopolitik yang mempengaruhi harga minyak dunia. Kondisi internal seperti daya beli masyarakat dan penjualan ritel juga menjadi faktor penting dalam menilai prospek pertumbuhan ekonomi dan kinerja perusahaan yang tercatat di bursa.

Sumber: Liputan6

Baca Juga

Scroll to Top