:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3267165/original/042073600_1602658746-20201014-IHSG-Dibuka-di-Zona-Merah-angga-8.jpg)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus merosot dan diperkirakan akan tetap mengalami kesulitan untuk pulih hingga akhir 2026. Pada 3 November lalu, IHSG turun 3,78% menjadi 4.904,28, mendorong nilai pasar saham Indonesia menyusut hingga Rp 8.655 triliun dalam sehari.
Tekanan jual dari investor asing semakin berat. Dalam satu hari perdagangan, mereka melepas saham senilai Rp 575,01 miliar, dan sepanjang tahun 2026 total aksi jual investor asing telah mencapai Rp 98,60 triliun. Kondisi ini membuat kinerja IHSG merosot 43,28% sejak awal tahun.
Nafan Aji, analis senior di PT Mirea Asset Sekuritas Indonesia, melihat indeks menghadapi hambatan serius di level psikologis 5.000. Jika tekanan penjualan terus berlanjut dan IHSG tidak mampu konsisten menembus level tersebut, volatilitas pasar akan tetap tinggi dan sulit terkendali.
Menurut Nafan, ada lima faktor utama yang akan terus mempengaruhi pasar hingga akhir tahun: penilaian MSCI terhadap status pasar modal Indonesia, kebijakan regulator terkait kepemilikan saham, risiko kelanjutan arus modal keluar, pergerakan suku bunga global dan nilai tukar rupiah, serta perkembangan geopolitik dan harga komoditas dunia.
“Untuk prospek hingga akhir 2026, saya melihat IHSG masih akan menghadapi tantangan untuk membangun momentum pemulihan yang berkelanjutan,” ujar Nafan saat dihubungi. Dia memproyeksikan volatilitas akan tetap tinggi dan pemulihan sangat bergantung pada kesuksesan reformasi pasar modal untuk mengembalikan kepercayaan investor asing.
Bagi investor yang masih ingin beraksi, Nafan merekomendasikan strategi beli bertahap saat harga turun (buy on weakness) untuk saham-saham dengan fundamental kuat dan valuasi menarik. Hindari akumulasi agresif dan selalu prioritaskan likuiditas yang memadai dalam setiap pilihan saham.
Saham-saham dengan konsentrasi pemegang saham tinggi (HSC) yang baru dikeluarkan dari perhitungan IHSG masih dapat diperdagangkan, tetapi investor perlu lebih hati-hati. Risiko terbatas free float, konsentrasi kepemilikan, dan volatilitas tinggi membuat saham ini kurang menarik bagi investor institusional yang mengandalkan strategi berbasis indeks.
“Investor sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan potensi capital gain, tetapi juga memperhatikan kualitas fundamental, valuasi, transparansi kepemilikan, dan prospek pertumbuhan bisnis masing-masing emiten,” jelas Nafan. Sebagai alternatif, saham-saham blue chip di sektor perbankan, barang konsumsi, telekomunikasi, dan otomotif masih layak dipertimbangkan karena likuiditas dan fundamental yang lebih solid.
Dengan kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian, investor membutuhkan kesabaran dan strategi selektif untuk tetap mendapat peluang keuntungan tanpa terjebak dalam jerat volatilitas yang tinggi.
Sumber: Liputan6
Baca Juga

Kapolri Tangkap Perwira Tinggi dalam Kasus Penyadapan Prabowo, Pakar Desak Usut Dalang Perintah

Dukungan Indonesia Jadi Penopang Ketahanan Palestina dalam Menghadapi Agresi

Jababeka Raih Pendapatan Rp 4,25 Triliun, Tapi Laba Bersih Anjlok 38 Persen

