:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/673466/original/jababeka.jpg)
PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) mencatat pertumbuhan pendapatan yang mengesankan di sembilan bulan pertama 2026, mencapai Rp 4.254,9 miliar atau sekitar Rp 4,25 triliun. Angka ini meningkat 16 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang hanya Rp 3.674,7 miliar.
Namun di balik pertumbuhan pendapatan tersebut, profitabilitas perusahaan justru menurun drastis. Laba bersih Jababeka terkoreksi 38 persen menjadi Rp 391,7 miliar, jauh lebih rendah dari Rp 634,6 miliar yang dicatat tahun sebelumnya.
Penurunan laba ini disebabkan oleh beban sekali jadi (one-off charge) pada kuartal II 2026 akibat kebijakan strategis perusahaan. Jababeka mengganti utang Senior Notes dalam Dolar AS dengan fasilitas pinjaman bank berdenominasi Rupiah, sehingga menimbulkan beban berupa rugi selisih nilai tukar, biaya penghentian lindung nilai, dan amortisasi dipercepat.
“Langkah ini diharapkan memberikan manfaat keuangan jangka panjang, meskipun berdampak sementara terhadap kinerja keuangan pada periode berjalan,” tulis manajemen Jababeka.
Meski laba bersih turun, metrik operasional lainnya menunjukkan tren positif. Laba bruto konsolidasian naik 7 persen menjadi Rp 1.577,8 miliar, EBITDA meningkat 4 persen mencapai Rp 1.362,4 miliar, dan posisi kas konsolidasian bertahan di Rp 3.153,7 miliar.
Di segmen Land Development & Property, pendapatan mencapai Rp 1.914,8 miliar dengan pertumbuhan 17 persen. Penjualan tanah dan bangunan pabrik justru melonjak sangat agresif sebesar 291 persen menjadi Rp 126,0 miliar dari Rp 32,2 miliar sebelumnya.
Segmen Infrastruktur tetap menjadi tulang punggung dengan kontribusi pendapatan berulang Rp 2.242,5 miliar atau 53 persen dari total. Ketenagalistrikan mengumpulkan Rp 1.505,2 miliar, jasa dan pemeliharaan tumbuh 33 persen menjadi Rp 525,6 miliar, sementara Cikarang Dry Port menyumbang Rp 211,8 miliar.
Hingga kuartal III 2026, nilai penjualan properti Jababeka mencapai Rp 1,52 triliun. Di Kendal, investor global dan lokal terus membeli lahan untuk ekspansi, termasuk produsen peralatan rumah tangga, pabrik baterai dari Tiongkok, dan pembuat kulit sintetis dari Tiongkok.
Manajemen mengakui bahwa investor saat ini cenderung lebih hati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Untuk menghadapi tantangan ini, Jababeka fokus memperkuat penjualan dan konversi peluang bisnis, dengan optimisme bahwa pasar properti industri akan lebih kondusif pada 2027.
Sumber: Liputan6
Baca Juga

Kapolri Tangkap Perwira Tinggi dalam Kasus Penyadapan Prabowo, Pakar Desak Usut Dalang Perintah

Dukungan Indonesia Jadi Penopang Ketahanan Palestina dalam Menghadapi Agresi

Polda Metro Jaya Buka Layanan SIM Keliling di Dua Titik Jakarta Akhir Pekan Ini

