:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5497603/original/096409200_1770638744-3.jpg)
Bursa saham Indonesia mengalami penurunan dalam periode 2-6 November 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,13% menjadi 5.050,42 dari level sebelumnya 5.057,05, sementara nilai total kapitalisasi pasar saham melorot 1,34% menjadi Rp 8.744 triliun dari Rp 8.862 triliun.
Pergerakan pasar didorong oleh kombinasi faktor lokal dan global. Analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menjelaskan, “Pelaku pasar juga menanti data nonfarm payrolls (NFP) AS.” Faktor domestik yang berpengaruh antara lain perubahan komposisi IHSG, di mana saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dikeluarkan dari perhitungan indeks sejak awal November.
Data ekonomi Indonesia menunjukkan sinyal positif, namun belum mampu mendorong sentimen pasar. Pertumbuhan ekonomi kuartal III mencapai 5,47% year-on-year, meningkat dari 5,29% kuartal sebelumnya, sementara Purchasing Manufacturing Index (PMI) naik ke 54 pada Oktober dari 52,4 di September. Inflasi juga terkendali di angka 3,23% year-on-year.
Aktivitas transaksi di bursa mengalami pelambatan signifikan. Volume perdagangan harian rata-rata turun 3,5% menjadi 31,29 miliar saham, frekuensi transaksi menurun 16,44% menjadi 1,29 juta kali, dan nilai transaksi harian merosot 23% menjadi Rp 11,04 triliun dibandingkan pekan sebelumnya.
Aliran modal asing tetap menjadi tantangan bagi pasar saham. Investor asing mencatat aksi penjualan saham sebesar Rp 167,11 miliar selama seminggu, lebih rendah dari pekan lalu Rp 3,05 triliun. Namun, secara kumulatif sepanjang 2026, investor asing sudah melepas saham senilai Rp 98,08 triliun, mencerminkan tren penarikan dana dari pasar Indonesia yang masih berlanjut.
Sumber: Liputan6
Baca Juga

Kapolri Tangkap Perwira Tinggi dalam Kasus Penyadapan Prabowo, Pakar Desak Usut Dalang Perintah

Dukungan Indonesia Jadi Penopang Ketahanan Palestina dalam Menghadapi Agresi

Jababeka Raih Pendapatan Rp 4,25 Triliun, Tapi Laba Bersih Anjlok 38 Persen

